Abad ke 2 Sensor Film Indonesia
Sensor Mandiri Wujud Kepribadian Bangsa

Jakarta,-

100 tahun sensor film bertemakan “Sensor Mandiri Wujud Kepribadian Bangsa”, sangat relevan dengan nuansa “pemberdayaan”, tentunya bagi semua pemangku kepentingan perfilman seperti produser, importir, ekshibitor, dan masyarakat secara luas. Demikian dikemukakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, saat peluncuran buku Bunga Rampai 100 Tahun Sensor Film di Indonesia di Auditorium Gedung Film, Jakarta.

“Jadi produser dan sutradara dapat melakukan sensor mandiri, importir melakukan seleksi film-film yang akan dibeli dan dipertunjukkan di Indonesia sesuai dan layak untuk bangsa Indonesia, ekshibitor bioskop, televisi, dan internet juga benar-benar menayangkan film-film yang telah disensor LSF sesuai dengan usia dan waktu penayangan”, ujar Menteri Prof.Dr. Muhadjir Effendy.

LSF diharapkan bekerja lebih profesional, transparan, akuntabel, memiliki integritas, tidak diskriminatif, sehingga LSF dapat benar-benar independen.

Disini pemerintah berkomitmen menghadirkan kembali negara melindungi segenap bangsa indonesia dan memberikan rasa aman kepada seluruh warga negara. Oleh karenanya tugas-tugas mulia ini pasti bisa terwujudkan apabila kita yang bekerja di sektor industri perfilman, dapat memberdayakan Sensor Mandiri secara bersama-sama.

Indonesia telah diakui dunia berada di antara 53 negara yang telah memberlakukan sistem rating atau klasifikasi tontonan. Karena Indonesia memiliki latar budaya yang beragam, agamis, memiliki nilai-nilai yang unik dan menjadi kebanggaan bangsa kita patut untuk dijadikan sebagai landasan penelitian, penilaian, dan penentuan klasifikasi film.

Dan salah satu tugas Menteri yang harus segera dituntaskan, tegas Prof.Dr.Muhadjir Effendy,  yakni mensahkan konsep Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tentang Pedoman Dan Kriteria Penyensoran, Penggolongan Usia Penonton, serta Penarikan Film dan Iklan Film Dari Peredaran. Tentunya LSF segera menyiapkan konsep Peraturan LSF tersebut tentang Pedoman Penetapan Klasifikasi Film Dan Iklan Film Berdasarkan Penggolongan Usia Penonton agar begitu Permen disahkan Peraturan LSF tersebut dapat segera dijadikan landasan yuridis dalam menjalan tugas penyensoran.

Di kesempatan yang sama Ketua Lembaga Sensor Film, Ahmad Yani Basuki mengingatkan bahwa strategisnya film dalam kehidupan bernegara, selain memiliki peran penting dalam peningkatan ketahanan budaya bangsa dan kesejahteraan masyarakat lahir-batin, serta sebagai media komunikasi massa. Film juga merupakan sarana pencerdasan kehidupan bangsa, pengembangan potensi diri, pembinaan akhlak mulia, pemajuan kesejahteraan, serta wahana promosi Indonesia di dunia internnasional.

Sementara, dalam era globalisasi film dapat digunakan sebagai alat penetrasi kebudayaan yang perlu menjadi perhatian bersama. Oleh karena kehadiran negara dan sinergitas stakeholders perfilman merupakan sebuah keniscayaan dalam bersama-sama membangun dan mengembangkan perfilman nasional, paparnya lebih lanjut.

Momentum peringatan memasuki Abad Ke-2 Sensor Film di Indonesia, lanjut Ahnad Yani Basuki, harus dimanfaatkan untuk mengawal Paradigma Baru Sensor Film, seperti sosialisasi dan pemberdayaan sensor mandiri,  membuka dialog dengan para produser, penulis skenario dan masyarakat perfilman dalam rangka meningkatkan produktivitas film yang berbasis budaya bangsa dengan mengangkat tema-tema yang bernuansa lndonesia, mengedepankan dialog dalam pengambilan keputusan sensor, serta tentunya membangun perwakilan LSF Daerah untuk mempercepat proses sensor, guna memastikan film-film yang berbasis budaya daerah dan bermuatan kearifan lokal dapat disensor oleh LSF Daerah, sehingga akan benar-benar terjaga nilai budaya dan kearifan lokal.

Mengingat begitu pentingnya membangun Budaya Sensor Mandiri, maka LSF mengajak semua pihak bisa berperan serta dalam program sosialisasi Budaya Sensor Mandiri tersebut. Budaya Sensor Mandiri menjadi sangat penting nilainya ketika kita dihadapkan dengan maraknya virtual reality atau realitas maya yang kini bersentuhan dengan produksi film, tegas Ketua LSF ini.

“Tentunya, sebagai upaya menghadapi dampak negatif yang timbul dari serbuan layanan streaming yang berbasis penyewaan film melalui internet, seperti Netflik, lflix, Cathplay, Youtube, Google Play, ltunes dan lain-lainnya sangat diperlukan adanya kesadaran budaya sensor mandiri ditengah-tengah kehidupan keluarga dan masyarakat pada umumnya”, pungkasnya.

(yuri; foto tomi

Bagikan tulisan ini melalui...

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*