Fenomena Masa Lalu Sebagai Peristiwa Kekinian
Film Enak Tho Zamanku, Piye Kabare

ThreeVenue, Jakarta,-

Produksi: Midessa Pictures; Produser: QDemank Sonny Pudjisasono; Sutradara dan Penulis  Skenario: Akhlis Suryapati; Kameramen: Aryo Chiko; Artistik: Iwan Jay; Musik: Keliek  S Ponco; i: Hornady Setiawan; Pemain: Ismi Melinda, Panji Addiemas, Ratu Erina, Eko Xamba, Ananda George, Sultan Saladin, Dolly Marten, Otig Pakis, Yurike Prastika, dan Riza Pahlawan.  Genre Drama Kriminal. Katagori Dewasa. Durasi 90 menit.

Film Enak Tho Zamanku – Piye Kabare, karya sutradara Akhlis Suryapati ini berbeda dari film kebanyakan. Selain mengangkat fenomena di masa lalu yang diketengahkan sebagai peristiwa kekinian, dialog naratif antartokoh sebagai benang merah cerita film, serta dialog para tokoh yang diucapkan layaknya pada pertunjukan opera. Bahkan untuk mempertegas judul film Enak Tho Zamanku– Piye Kabare, Akhlis Suryapati sebagai penulis skenario mengetengahkan filosofi “nasi goreng”, pada adegan maupun dalam dialog tokoh utamanya, Pinuntun (Dolly Marten) dan Mbah Mangun (Otig Pakis). Dari semua itu, tidak berkelebihan jika dikatakan bahwa film ini cenderung memunculkan multitafsir bagi penontonnya.

Bila sedikit saja menyimak nama dua tokoh yang ada, Darmo Gandul dan Gato Loco, dapat dipastikan bahwa Sang Sutradara, Akhlis Suryapati yang juga wartawan itu, pernah membaca buku Gatolotjo versi baru serta Serat Darmogandul, terbitan tahun 1960. Serat Darmogandul merupakan buku yang berintikan cerita yang disampaikan melalui dialog antartokoh yang ada, pada zaman kerajaan Majapahit di era Prabu Brawijaya.

Film Enak tho Zamanku dibuka dengan adegan Mbah Mangun yang sedang meracik bumbu nasi goreng dan dilanjutkan membuat nasi goreng. Adegan pembuka tersebut,  bisa ditafsirkan bahwa sutradara sengaja ingin menyajikan karakter Mbah Mangun sebagai sosok yang ahli “menggoreng” masalah. Atau bisa juga sebagai ungkapan untuk mempertegas judul film, Enak Tho Zamanku. Sebab sangat dipercaya bahwa nasi goreng berbahan “nasi kemarin” lebih enak rasanya bila dibandingkan dengan nasi yang baru matang.

Meski dalam pendeskripsian tokoh dan adegan hampir mirip Pemerintahan Orde Baru. Film bergenre drama kriminal ini, mengangkat sejumlah ungkapan yang banyak beredar di masyarakat saat ini. Istilah kekinian yang muncul dalam film tersebut yakni seperti radikal, intoleran, kecebong, juga seruan Takbir.

Tidak terlewatkan adanya perintah dari tokoh penjahat untuk menyingkirkan lawannya dengan kalimat perintah: “Jadikan seperti pembacokan di jalan tol, atau penyiraman air keras!”

Penonton juga dapat menafsirkan tempat kejadian utama dalam film ini. Yakni, hotel. Hotel dalam film ini dapat diinterpretasikan sebagai tempat yang begitu longgar bagi mereka yang datang dan pergi untuk berbagai kepentingan, yang baik atau yang berniat jahat.

Tanpa harus menggunakan teknologi canggih berbiaya mahal serta special effect yang ribet, film ini berhasil menampilkan gambar-gambar filmis serta ilustrasi musik yang dinamis, dan adegan laga yang menghentak, karena hasil kerja Post Produksi yang mampu menggabungkan berbagai unsur tersebut, secara harmonis.

 

Sinopsis

Film Enak Tho Zamanku, Piye Kabare menceritakan tentang Pinuntun yang disingkirkan oleh kawanan Gato Loco (Eko Xamba) secara brutal. Hal ini terjadi akibat tragedi perebutan warisan yang meliputi Restoran, Hotel dan Klub Malam. Akhirnya, Pinuntun pun mengalami gangguan kesehatan akibat insiden tersebut.

Banyak pihak yang mengharapkan kesembuhan Pinuntun, salah satunya Mbah Mangun yang lihai membuat menu hidangan nasi goreng bagi para pelanggannya. Selain itu, pihak Belanda yang memiliki tradisi napak tilas bagi leluhur Indonesia pun juga mengharapkan hal yang sama pada Pinuntun.

Pasca kejadian anarkis tersebut, Darmo Gandul (Pandji Addiemas) yang merupakan putra dari Pinuntun kembali dari perantauannya. Darmo merasa sangat penasaran dengan apa yang tengah terjadi pada keluarganya. Ia juga menemukan banyak kejanggalan dalam pengelolaan Restoran, Hotel dan juga Klub Hiburan.

Darmo Gandul pun tanpa sengaja bertemu dengan seorang gadis penghibur yang memiliki karakter pemberani namun sering menjadi korban kekerasan. Gadis cantik tersebut bernama Retno (Ismi Melinda). Dalam kisah tersebut, Retno sedang berusaha untuk membebaskan sang adik perempuan yang dikirim sebagai tenaga penghibur di negeri seberang oleh Mucikari (Evry Joe).

Selain itu, Saladin (Sultan Saladin) ternyata menjadikan Klub Hiburan dan Hotel tersebut sebagai pusat perdagangan wanita. Di tempat tersebut para wanita penghibur dikirim hingga keluar negeri untuk mendapatkan keuntungan besar. Hotel tersebut juga menjadi tempat para tenaga kerja ilegal yang nantinya akan disebarkan ke berbagai wilayah.

Hadirnya Darmo Gandul di tanah kelahirannya itu, menjadikan kelangsungan kekuasaan Saladin terancam. Oleh karena itu, Saladin meminta bantuan dari kawanan Gato Loco dengan Madon-A (Ratu Erina) untuk menyingkirkan Darmo Gandul.

Ternyata Darmo Gandul dan Gato Loco merupakan teman karib diwaktu kecil, yang sama-sama keblinger ilmu kanuragan dan filsafat oleh seorang Suhu (Reza Pahlawan). Kini mereka berhadapan kembali bukan sebagai teman, melainkan sebagai musuh.

Kekuasaan dan jaringan kejahatan Saladin, tidaklah sesederhana yang dibayangkan banyak orang. Madon-A tidak lain adalah agen kaliber internasional yang selalu di bawah perintah seorang Pria Misterius bertongkat naga (Ananda George), yang menjadi Penghubung dalam matarantai grand design untuk menjadikan Saladin sebagai seorang penguasa.

(hs; foto ist

Bagikan tulisan ini melalui...

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*