Film Sultan Agung: Tahta, Perjuangan dan Cinta
Inspirasi Mempersatukan Nusantara Kembali

ThreeVenue, Jakarta,-

Dalam memperingati 90 tahun, Mooeryati Soedibyo mempersembahkan film berlatar belakang sejarah yakni ”Sultan Agung : Tahta, Perjuangan dan Cinta”, sebagai bentuk rasa syukur, selain membawa warisan ilmu, adab perilaku, serta apresiasi terhadap lingkungan.

Dipilihnya kisah hidup Raja Mataram Pertama Sultan Agung untuk difilmkan itu bukan tanpa alasan. Karena Sultan Agung memillki semangat untuk kembali mempersatukan Nusantara yang kala itu sedang terpecah pecah karena perebutan kekuasaan dan juga dikuasai oleh penjajah Belanda dengan kedok perdagangan rempah di bawah nama VOC, lanjut Bu Moor.

“Film ini saya persembahkan kepada bangsa dan negara untuk menghidupkan kembali semangat kesatuan dan persatuan. Film ini juga ditujukan khusus bagi generasi penerus agar mengenal dan menghargai perjuangan pahlawan kita. Salah satunya adalah Sultan Agung”, tegasnya.

Film yang digarap sutradara Hanung Bramantyo ini, bakal mengangkat bagian kehidupan Sultan Agung tentang pengorbanan dan cinta tanah air. Saat diangkat jadi Raja Mataram pertama, Sultan Agung sempat bimbang. Apakah menerima wasiat ayahnya untuk menjadi raja, atau terus menimba ilmu di padepokan sambil memadu kasih dengan Dyah Rara Lembayung. Menerima tahta atau melepaskan cintanya. Nah lewat film ini pesan moral bahwa persatuan dan kesatuan nusantara tetap menjadi di atas segalanya akan tergambarkan.

Hj. DR. BRA. Mooryati Soedibyo, merupakan cucu Sri Susuhunan Pakoe Boewono X dari Keraton Surakarta. Dan sejak usia 3 tahun Moeryati Soedibyo tinggal di Keraton Surakarta yang dikenal sebagai sumber daripada kebudayaan Jawa.

Di Keraton, ia mendapat pendidikan secara tradisional yang menekankan pada tata krama, seni tari klasik, karawitan, membatik, ngadi saliro ngadi busono, mengenal tumbuh-tumbuhan berkhasiat, meramu jamu, dan kosmetika tradisional dari bahan alami, bahasa sastra Jawa, tembang dengan langgam mocopat, aksara Jawa Kuno, dan bidang seni lainnya.

Dalam rangka melestarikan semua pengetahuan dan pengalamannya itulah, Hj. DR. BRA. Mooryati Soedibyo, kemudian mendirikan perusahaan PT Mustika Ratu yang bergerak dibidang industri kecantikan melalui resep leluhur jamu-jamu tradisional yang diolah secara baik dan disajikan secara modern.

Film Sultan Agung: Tahta, Perjuangan dan Cinta, menceritakan bahwa ayahandanya, Panembahan Hanyokrowati, yang meninggal di Hutan Krapyak, mewasiatkan puteranya, Raden Mas Rangsang, untuk menggantikannya. Maka di tahun 1613, Raden Mas Rangsang menjadi Raja Mataram pertama.

Menjadi Raja Mataram pertama, sesuatu yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Karena sesungguhnya Raden Mas Rangsang lebih tertarik mendalami ilmu kehidupan dan budi pekerti, kanuragan, serta kebudayaan di padepokan Ki Jejer. Apalagi Raden Mas Rangsang tengah menjalin asmara dengan Dyah Rara Lembayung, teman seperguruannya.

Sementara pada saat itu Mataram adalah kerajaan pewaris Majapahit yang memiliki tanggungjawab menyatukan kembali Nusantara. Sumpah Amukti Palapa dari Mahapatih Gadjah Mada harus diwujudkan. Nusantara harus kembali menyatu seperti di jaman Majapahit dahulu.

Keinginan Mas Rangsang untuk terus menimba ilmu sambil menjalin hubungan kasih dengan Dyah Rara Lembayung dibenturkan kepada kenyataan bahwa Nusantara saat itu tengah pecah. Tanah Jawa sedang dilanda prahara akibat adipati-adipati saling berperang dan kemudian takluk dengan VOC.

Melihat kenyataan itu Mas Rangsang merasa diberikan amanah yang berat sebagai Raja Mataram pertama. Terlebih lagi Mas Rangsang juga harus berpisah dengan kekasihnya Lembayung. Karena Lembayung bukan dari keluarga bangsawan yang tidak dapat mendampinginya sebagai Raja Mataram. Namun demi sebuah cita-cita luhur, Mas Rangsang mengorbankan cintanya dan menerima amanah menjadi penerus Mataram dengan gelar Sultan Agung Hanyokrakusumo.

Setelah menjadi Raja Mataram, Sultan Agung lalu mengambil langkah untuk menyatukan tanah Jawa di bawah panji-panji Mataram. Ia memerintahkan rakyat dan pasukannya agar segera melawan orang-orang asing termasuk VOC yang telah menjarah sumber daya alam Nusantara dan membuat penduduk asli menjadi miskin dan kekurangan makan. Penyatuan tanah Jawa penuh perjuangan dan memakan waktu dari tahun 1618 hingga tahun 1627.

Untuk menyatukan kembali tanah Jawa sebagaimana amanat yang diembannya, Sultan Agung selalu mengedepankan cara-cara dialogis. Karena Mataram sama sekali tidak berniat menjajah. Namun jika cara tersebut gagal, Mataram tidak segan-segan memerangi demi cita-cita luhur menyatukan Nusantara.

Dari cara dialog dan juga dengan berperang, akhirnya memberikan hasil. Puncak dari penyatuan tanah Jawa adalah bergabungnya Panembahan Surabaya dengan Mataram. Jawa sudah mendekati kenyataan akan menyatu kembali. Tinggal kerajaan Banten yang posisinya sudah dikuasai VOC. Ini jelas membuat Sultan Agung masih menyimpan kekecewaan karena Jawa belum sepenuhnya menyatu.

Puncak kemarahan Sultan Agung adalah ketika mengetahui bahwa VOC jelas-jelas mengkhianati perjanjian dengan Mataram dengan membangun Kantor Dagang di Batavia. VOC di bawah kepemimpinan Jean Petersen Coen juga berhasil membangun Benteng di Batavia dan menguasai jalur perdagangan rempah-rempah. JP Coen dikenal sebagai Gubernur Jenderal Belanda yang bertangan besi, kejam dan ambisius.

Penguasaan VOC atas kerajaan Banten ternyata tidak berlangsung lama. Karena Banten ternyata juga berencana melawan VOC. Kerajaan Banten meminta bantuan kepada Sultan Agung.

Sultan Agung menyiapkan prajurit-prajurit tangguh Mataram yang dipimpin senopati-senopati unggulannya. Didukung Kadipaten-Kadipaten dari Jawa Timur, pesisir utara Jawa Tengah dan Jawa Barat, Sultan Agung mulai menggempur VOC di Batavia pada tahun 1628.

Perang tersebut adalah bukti, bahwa Mataram pantang kenal menyerah dengan tekad mengusir penjajah yang merugikan Bumi Pertiwi.

Perang Batavia terjadi dua kali yaitu tahun 1628 dan 1629, dengan puncaknya meninggalnya Gubernur Jenderal JP. Coen dan runtuhnya Benteng VOC. Sultan Agung menyatakan, peperangan ini belum selesai, dan harus terus dilanjutkan oleh generasi yang akan datang.

Di akhir-akhir kehidupannya, Sultan Agung melestarikan tradisi dan karya-karya budaya yang nilainya sangat tinggi. Ini sesuai dengan hasrat beliau sebelum naik tahta sebagai Raja Mataram.

Sementara cinta Lembayung kepada Sultan Agung tidak pernah pudar. Ketika Sultan Agung wafat di tahun 1645, Dyah Rara Lembayung ikut menghantarkan jenazah Sultan Agung ke pemakaman Raja-Raja Mataram di Imogiri.

(ayen; foto mm

Bagikan tulisan ini melalui...

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*