Jelang Layar Lebar Animasi Palembang
Bermain di Ranah Fiksi; Khayalan Maksi

Jakarta,-

Palembang kota tertua berdiri tahun 683. Fakta arkeologi ketuaan peninggalannya nyaris tiada. Oleh karenanya jelang Layar Lebar Palembang, project MD animasi ini bermain di ranah fiksi; dengan khayalan maksi.

Ketuaan sejarah silam itu, sengaja dilenyapkan agar kebesaran peradaban lenyap dan generasi lantas kehilangan kebanggaan.

Bila saat ini ada Benteng Kuto Besak di tepian Sungai Musi, hal itu baru dibangun di abad 18. Namun kita tak pernah tahu apa yang terjadi pada tahun 700, 800, 900, 1000. Dari beberapa literatur yang sempat ditelaah, peradaban silam itu tak kalah maju, bahkan dalam beberapa hal bisa lebih maju dari saat ini.

Kita tak tahu apa yang terjadi pada tahun 700, 800, 900, 1000…”. kalau kita baca kisah-kisah (terutama beragam kitab suci atau kitab sastra) tergambar bahwa teknologi masa lalu sedemikian tingginya.

Nabi Nuh, misal, mampu membuat kapal yang mampu angkut sepasang hewan dari beratus ribu spesies. Kita baca Ramayana atau Mahabharata, perang yang terjadi menggambarkan teknologi demikian tinggi. Satu anak panah dilepas Bhisma ke udara, maka ketika ia turun telah menjelma menjadi ribuan anak panah. Persis bom curah (cluster bomb).

Menarik jika animasi itu menggambarkan Sriwijaya yg perkasa di abad ke7 atau jauh sebelum itu. kapankah masa Nabi Nuh? kapankah Mahabharata ditulis? kapan pula Lagaligo (diduga sebagai sastra tertua) bermula? ada hal menarik (di kisah lagalogo), sebelum Raja Di Langit, La Patiganna memutuskan untuk menurunkan manusia di bumi Sulawesi, ia berembuk dulu dengan keluarga dari beberapa kerajaan termasuk Senrijawa (sriwijaya) dan Peretiwi (bumi pertiwi?). Dan masa itu Tiongkok pun masih mampu ditaklukkan kerajaan Sulawesi (yang kemudian berdiri). Konon pula, nama perahu pinisi berasal dari wilayah Venesia, yang dikunjungi pelaut Bugis ribuan tahun lalu; kemudian terkagum pada wilayah itu.

Ini misteri-misteri tak terpecahkan, kabarkanlah betapa megah Nusantara kita. Sekitar 17.508 pulau di Nusantara dengan beribu kekayaan budayanya, tentulah ada kisah lebih hebat bisa digali dibanding mahakarya Phantom of The Opera.

Animasi Sriwijaya ini bukan tak mungkin menjadi sebuah mahakarya. Nama Sriwijaya sudah menarik; kebesarannya; adat istiadatnya; pecapaiannya… bahkan beragam mitos yang tumbuh bersamanya. Menarik untuk tidak saja dijadikan sebuah animasi; namun juga novel; opera; teater; film.. apa pun.

Ini soal bagaimana penghormatan kita pada budaya Nusantara.

(yuri/tjo; foto ist

Bagikan tulisan ini melalui...

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*