Berkuda Jelajahi Alam Watu Susu Rongga

Kota komba,-

Jelajah alam dari atas punggung kuda, di terpa angin sepoi sembari melintasi tepian pantai, jalan berbatuan, padang savana  dan berakhir di puncak bukit  Poco Komba. Jadi sensasi petualangan  nan menantang.

Dari Pantai Mbalata Desa Watunggene Kecamatan Kota Komba, puluhan  ekor kuda berjaga untuk menelusuri petualangan yang  menantang itu.  Dikawal oleh  Pemangku Adat Suku Nggeli dan Pemangku Adat Suku Motu.

Sebelumnya dari Watu Susu Rongga  ritual Pauk Manuk (Persembahan Ayam) dijalankan. Hal itu dimaksudkan untuk memohon restu kepada arwah para leluhur agar jelajah alam terhindar dari bencana yang tidak diinginkan dan dapat pulang kembali dengan selamat. Ritual itu juga untuk mengetahui apakah para leluhur itu mengabulkan maksud dan tujuan tersebut.

Bulu ayam hitam dicabuti, disembelih dan diteliti isi perut ayam-nya. Utamanya usus dan empedu. Jika usus itu panjang dan empedunya terlihat bersih, maka berarti rombongan tamu diterima dan diperkenankan mengunjungi makam para leluhur dan berkunjung ke Watu Susu Rongga.

Tapi tidak semua permohonan dikabulkan oleh para leluhur.Jadi beruntunglah rombongan yang telah mendapat restu. Usai ritual  masing-masing anggota rombongan diminta meminum sedikit Sopi atau Moke (arak yang bahannya diambil dari pohon lontar).

Perjalanan pun dimulai.  Iring-iringan kuda mulai menyusuri tepi Pantai Mbalata berbatu. Selepas jalanan berbatu, mulai menyusuri jalan pekarangan penduduk. Dan tak lama berselang lalu melewati  padang savana  luas di kaki Poco Komba.

Dilatarbelakangi Laut Sawu, kuda bergegas  menuju Poco Komba nan menghijau. Tampak kerbau, kuda, dan sapi-sapi liar turut berlarian menyambut penjelajah alam di padang savana itu.

Puas menikmati keindahan di padang savana, tibalah  melanjutkan perjalanan ke makam para leluhur yang tersebar mulai dari kaki hingga ke ujung Poco Komba.  Suasana religius pun mulai menyergap.

Makam batu pertama yang ditemui  merupakan makam Bela Paka Ratu, seorang petinggi Etnis Rongga  yang punggungnya pernah disambar petir tetapi tidak mati. Batu itulah sebagai pertandanya sekaligus petunjuk arah untuk menuju Bukit Komba.

Penjelajah alam pun tiba  di kompleks pemakaman para leluhur etnis Rongga di Kampung Sambi Lewa (pohon Kesambi yang tinggi). Sebelum sampai kompleks pemakaman  kuda  ditambatkan. Perjalanan  dilanjutkan dengan berjalan kaki. Setelah sampai di Kampung Sambi Lewa, upacara ritual pauk manuk digelar untuk kedua kalinya.

 

Selepas melaksanakan ritual kedua, penjelajah alam ke puncak Poco Komba dilanjutkan dengan menelusuri pelataran bersusun tujuh yang dahulu  merupakan tempat tinggal leluhur etnis Rongga.

Pelataran pertama tempat tinggal anak paling bungsu, demikian seterusnya hingga anak sulung (pertama) yang bernama Meka Leke. Meka Leke memiliki adik yang namanya Meka Ngguru, disusul Meka Woi. “Anak keempat dan kelima perempuan. Lalu anak keenam Meka Paka dan anak bungsu bernama Jawatu.

Sebelumnya terdapat makam  yang ditandai batu berbentuk pisau atau belati setinggi dua meter dengan lebar sekitar 50 cm. Merekalah yang menjaga Watu Susu Rongga.

Watu Susu Rongga pun terlihat jelas di depan mata. Ketinggian batu yang dipenuhi semak-semak itu sekitar 15 meter. Letaknya saling berdampingan dan bentuknya menyerupai payudara. Itulah sebabnya batu itu dinamakan Watu Susu Rongga.

Usai menikmati penjelajah alam menuruni punggung bukit dari arah lain dan dalam perjalanan pulang tersebut beristirahat sejenak di mata air Wei Motu yang pada awalnya digali oleh seekor anjing bernama Eko Lewa (anjing yang berekor panjang). Mata air tersebut mengalir melalui sela-sela bukit.

Selain itu juga menjumpai kubur Sunggi dan Sika, nenek moyang Suku Motu yang masih keluarga etnis Rongga. Di atasnya juga terdapat kubur lain di Kampung (Nua) Nunuwula.  Makam para leluhur itu merupakan bukti bersejarah keberadaan suku Motu, sekaligus merupakan petunjuk arah menuju jalan kembali ke padang savana. (md tjoek

Bagikan tulisan ini melalui...

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*