Jejak Nusantara di Afrika Selatan

Cape Town,- Bangunan di Pulau Robben itu berbentuk musala kecil, lengkap dengan kubah serta dinding batu, dan dipagari. Kontras dengan bangunan penjara yang berdinding dingin, tepat di sampingnya. Penjara itu tempat Nelson Mandela menjalani kurungan selama 27 tahun lalu kemudian dijadikan museum dan menjadi salah satu titik yang “wajib” dikunjungi turis di Cape Town, Afrika Selatan.

Pemandu wisata, setelah menjelaskan ini dan itu soal kehidupan Mandela di balik terali besi, menyinggung soal “musala” dekat penjara itu. “Ini makam Sayed Abdurahman Moturu,” katanya.

“Ia datang dari Madura, di Pulau Jawa, Indonesia.” Nama “Moturu” di belakang Abdurahman pun mungkin disesuaikan dengan cara lidah Afrika mengeja kata “Madura”.

Menurut mantan Menteri-Sekretaris Negara Yusril Ihza Mahendra, Sayed Abdurahman Moturu tak lain adalah Cakraningrat IV. Dia seorang pangeran di Madura yang ditangkap dan diasingkan ke Afrika Selatan karena melawan Belanda. Makam ini menjadi salah satu tonggak bahwa hubungan Indonesia dengan Afrika Selatan, sangat dekat selama berabad-abad.

Orang dari Indonesia datang ke Afrika Selatan sebagian besar karena menjadi tahanan politik. Biasanya pemimpin pemberontak atau perlawanan terhadap Belanda yang ditangkap akan diasingkan ke Tanjung Harapan ini.

Tokoh paling terkenal—dan yang pertama—dibawa ke Afrika Selatan dari Indonesia oleh Belanda atau VOC adalah Syekh Yusuf. Bangsawan Makassar kelahiran 1626 ini ditangkap karena membantu Sultan Ageng Tirtayasa berperang melawan VOC di Banten. Syekh Yusuf semula diasingkan ke Sri Lanka dan kemudian, pada 2 April 1694, sampai ke Tanjung Harapan pada 1694.

Keponakan Raja Goa itu kemudian menjadi penyebar Islam pertama di Afrika Selatan. Wilayah tempatnya diasingkan disebut Macassar sampai sekarang.

Ulama lain yang diasingkan ke Afrika Selatan adalah Imam Abdullah Kadi Abdus Salaam, tuan guru (kiai) dari Tidore. Ia diasingkan ke Pulau Robben karena di Tidore diduga berkonspirasi dengan lawan Belanda, yakni Inggris, pada 1780. Setelah dibebaskan dari Pulau Robben, tapi tetap tinggal di Tanjung Harapan, dia kemudian mendirikan masjid pertama di Cape Town.

Sayed Abdurahman Moturu menjadi salah satu pemimpin perlawanan dari Indonesia yang diasingkan Belanda ke Tanjung Harapan.

Selain para pemimpin pemberontak dan anak buahnya yang didatangkan Belanda, ada sekelompok Mardijker (keturunan budak atau bekas budak yang sudah dimerdekakan) yang didatangkan ke Tanjung Harapan.

Jejak orang Indonesia di Tanjung Harapan tidak hanya tampak dari sejumlah “makam” di sana. Tapi juga kehadiran “kampung Melayu” di tengah-tengah Kota Cape Town. Kampung Melayu ini, yang nama resminya Bo Kaap, terkenal unik karena bangunannya dicat warna-warni ngejreng. Warga Bo Kaap merupakan muslim dan memiliki banyak masjid.

Di masa apartheid, posisi warga Melayu keturunan Indonesia ini merupakan warga dengan kulit berwarna. Posisinya lebih tinggi daripada kulit hitam tapi jelas tidak setinggi kulit putih dalam hierarki apartheid.(ist/dt / foto: ist

Bagikan tulisan ini melalui...

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*