Pangaur Adat Baharin

(Dayak Balanghan Halong, Kalimantan Selatan; Ds. Mauya Kec. Halong Kab. Balangan, Pelaksanaan 6 s/d 12 November 2015, Jarak Tempuh 45 Km (1,5 jam) dari Kota Kabupaten, bisa menggunakan sarana transpotasi roda 2/4).
Baharin merupakan ungkjapan rasa sukur kepada Ning Bahatara (TYME) atas kelimpahan panen, kesehatan dan keberhasilan dalam kehidupan, yang dilaksanakan selama 7 hari/7 malam penuh dengan ritual dan rasa kekeluargaan dan kegotongroyongan.
Dalam agama leluhur  kaharingan  mempercayai akan adanya kehidupan setelah mati, yaitu kehidupan alam roh dan di alam inilah para leluhur mereka berada, dan di percayai pula bahwa adanya saling ketergantungan antara kehidupan di dunia dan kehidupan di alam roh ini.
Kehidupan di alam roh  layaknya kehidupan di dunia,  bahkan mereka ini ikut menentukan segala baik dan buruk kehidupan para turunan mereka di dunia, memohonkan harapan – harapan para keturunan mereka di dunia kepada penguasa penuh semesta alam dunia dan alam roh, memenuhi atau mengabulkan hajat mereka, sehingga kewajiban para mereka para turunan yang ada di dunia ini adalah berbakti kepada mereka yang telah tiada untuk memenuhi segala kebutuhan kehidupan leluhur di alam roh dan mengingat kepada mereka dengan memberikan sesaji dalam ritual ritual keagamaan mereka.
Masyarakat desa  umumnya bertani manugal, yakni  menanam padi tidak pada pematang sawah yang sangat tergantung pada sistem irigasi tapi menanam padi pada lereng lereng gunung, padi yang dihasilkan  dikenal sebagai beras gunung, pulen dan wangi.
Musim panen adalah salah satu momen yang ditunggu-tunggu kedatangannya. Selain bermakna ekonomi, musim panen padi juga mengandung makna spritual. Oleh sebab itu,  masyarakat menggelar ritual-ritual tertentu atau upacara-upacara khusus sebelum atau sesudah musim panen padi tiba.
Sebagai perwujudan rasa syukur dan sekaligus penghormatan terhadap arwah leluhur yang diyakini senantiasa melindungi mereka dari berbagai marabahaya. Mereka meyakini, beras hasil panen (baras hanyar) belum boleh dimakan, sebelum upacara adat tersebut dilaksanakan.
Upacara melibatkan seluruh warga kampung,  selain melibatkan para aparat pemerintahan sebagai tamu istimewa undangannya dan dilaksanakan di balai adat serta diyakini  sebagai salah satu medium paling utama untuk memperkuat tali persaudaraan di kalangan mereka. Inilah tradisi yang hakikatnya menyimpan nilai-nilai religius dan sosial.
Dalam masyarakat Dayak, pemahaman filosofis tersebut berkenaan dengan pemaknaan akan seluruh aktifitas keseharian mereka. Misalnya, dalam aktifitas ekonomi yang meliputi aktifitas berladang ataupun bercocok tanam serta pada akhirnya memanen hasil pertanian mereka. Menurut pandangan filosofis orang Dayak, aktifitas berladang tidak semata-mata sebagai sebuah aktifitas ekonomi namun itu semua tidak bisa terlepas dari pemaknaan nilai-nilai ketuhanan (religius). Maka, pandangan filosofis inilah yang turut serta membentuk karakter ritual yang dilakukan mereka hingga akhir hayat.
(mdtj/Yansah Woto foto dok

Bagikan tulisan ini melalui...

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*