IDP Fest 2018
Hadirkan Marawis dan Lenong Betawi

ThreeVenue, Jakarta,-

Ajang pertemuan para musisi drum dan perkusi di tanah air, Indonesia Drum & Perkusi Festival (IDP FEST) 2018 akan digelar untuk ketigakalinya di Pusat Kesenian Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta selama 4 hari (29 Maret – 1 April 2018).

“IDPFest digelar dengan satu niat serta tekad mengapresiasi kesenian, kebudayaan melalui drum dan perkusi Insonesia dalam membangun generasi penerus yang berkarakter dan kreatif. Dengan kemampuan SDM penyelengaraan yang terbatas dan juga permodalan, kita berusaha sesuai kemampuan event ini harus ada untuk memberi ruang bagi para drummer serta perkusionis,” jelas Ekki Soekarno, Kamis (15/3/2018) di TIM Jakarta.

Selain pameran alat musik drum dan beragam perkusi Indonesia, penyelenggara mengadakan kompetisi drum, kompetisi kolaborasi drum dan perkusi Indonesia, klinik edukasi drum dan  perkusi Indonesia, penyelenggara juga menggelar seminarhingga sejumlah penghargaan.

Penghargaan IDP Legend, baik drummer maupun perkusionis Indonesia dari dekade 50, 60 & 70-an, seperti M. Sani, Lym Kampay, Isa Tartusi, Johnny Swadie, Gatot Sunjoto, Kang Mamat, dan Bang Sara.

Ada sesuatu yang barau di IDP Fest kali ini. Penyelenggara menghadirkan Marawis dan Lenong Betawi. “Tentunya kita lihat grup marawis yang bakal tampil ini punya kekhasan khusus,” ujar Ekki Soekarno.

Ekki menambahkan, grup Marawis yang akan tampil menghibur pengunjung nantinya merupakan hasil seleksi dari semua grup marawis di Jakarta. Pengelenggara mendapat grup marawis yang menjadi juara di Jakarta.

“Mereka akan tampil dengan lebih menonjolkan keahliannya memainkan perkusinya,” ungkap Ekki.

Ekki Berharap, IDPFest berikutnya bukan sekedar ajang kumpul-kumpul atau arena perform saja,tapi diharapkan menjadi pusat pustaka dan edukasi para seniman musik tanah air, khususnya drummer dan  perkusionis.

“Kami sedang melakukan pendokumentasian jenis perkusi di Indonesia, kami juga menginvetarisir para seniman drum dan perkusi yang pernah ada. Caranya kami memulai pendataan melalui riset dan pendataan di komunitas yang ada,” papar Ekki.

(a yen; foto mm

Bagikan tulisan ini melalui...

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*