Kongres XX dan Pertemuan llmiah Tahunan IAI 2018
Trusted Pharmacist for a Better Quality of Life

Jakarta,-

Profesi apoteker dibeberapa negara maju masuk dalam katagori 10 profesi terpercaya lantaran bersinggungan langsung dengan kesehatan masyarakat. Sementara di Indonesia, apresiasi terhadap profesi apoteker belum begitu baik.

Hal ini menjadi perhatian serius bagi organisasi profesi Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) yang Rabu (18/4/2018) besok akan menggelar Kongres ke XX di Labersa Grand Hotel and Conventions Center, Pekanbaru, untuk memilih Ketua Umum Pengurus Pusat IAI dan jajarannya.

Kongres XX dan PIT IAI 2018 mengambil tema Trusted Pharmacist for a Better Quality of Life. Tema ini diambil mengingat semakin tingginya tuntutan bagi apoteker untuk memenuhi standar kompetensi dan moral yang lebih baik dalam memberikan pelayanan. Trust is an important start of every journey.

Menurut editor Why Consumer Trust Pharmacist (Drug Topics, 20 Januari 2017) profesi apoteker terpercaya karena dua hal, yaitu apoteker dianggap sebagai tenaga terlatih klinis yang dapat menjawab pertanyaan pasien tentang terapi mereka, dan apoteker dapat diakses masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pengobatan sampai ke kelompok masyarakat paling kecil, yaitu keluarga.

Sementara itu Ketua Umum PP IAI Drs Nurul Falah Eddy Pariang, Apt., menyampaikan saat konferensi pers jelang Kongres XX IAI, dua tantangan berat yang harus diselesaikan kepengurusan PP IAI Periode 2018-2022, pertama, menghadapi anggota IAI yang belum bisa melakukan praktek secara bertanggung jawab dan maraknya penjualan obat secara online.

“Sekarang ada digitalisasi obat-obatan. Obat-obatan dijual online dimana-mana, padahal kita tahu obat itu masing-masing memiliki karakteristik beragam. Jika kondisi penjualan obat secara online seperti sekarang ini, saya meragukan keamanannya untuk kesehatan. Kecuali beli di online yang kebetulan memiliki apotek,” ujar Nurul.

Tantangan itu menurut Nurul menjadi pekerjaan rumah yang harus dituntaskan oleh kepengurusan yang akan datang. Sehingga untuk menduduki jabatan sebagai Ketua Umum, seseorang harus memiliki pra syarat khusus. “Apalagi ini merupakan organisasi profesi yang memiliki dampak langsung kepada masyarakat,” tambah Nurul.

Pengurus Pusat IAI dan Panitia Kongres sudah memiliki beberapa kriteria yang harus dipenuhi oleh calon ketua umum, seperti; pertama, calon ketua sebaiknya tokoh kaliber nasional dan pernah memangku jabatan tingkal nasional.

“Hal ini perlu agar jika terpilih nanti, dia tidak gamang saat berkomunikasi dengan stakeholder yang lain seperti, Menteri, Kapolri, Ketua IDI, Ketua BPOM dan lainnya,” terang Nurul.

Kriteria selanjutnya, calon ketua umum pernah melakukan praktek kefarmasian, memiliki jaringan tingkat nasional yang mudah diakses, memiliki endurance yang bagus dan mengetahui kompetensi apoteker sehingga punya arah, punya visi misi untuk meningkatkan kompetensi apoteker .

“Yang tidak kalah pentingnya, dia harus memiliki kolega yang terdiri dari ahli-ahli yang bisa membantunya dalam menjalankan tugas mengurus organisasi, misalnya apoteker di politisi, apoteker di kepolisian, di BPOM, dinas kesehatan, pemerintahan dan perusahaan farmasi,” papar Nurul.

Drs. Nurul Falah Eddy Pariang sebelum menjadi Ketua Umum PP IAI merupakan politisi Partai Amanat Nasional (PAN). Selama menjadi anggota DPR Periode 2004-2009, dia dipercaya jadi anggota Komisi IX. Nurul juga sudah berpengalaman di industri farmasi karena pernah lama bekerja di PT. Kimia Farma.

“Berdasarkan semua pengalaman itu, saya merasa memiliki kompetensi untuk mengembangkan apoteker di Indonesia. Saya merasa, jika kinerja saya selama ini dipandang  bermanfaat oleh para anggota dan para wakil pengurus daerah yang mengamanahkan, Insya Allah saya mau mencalonkan lagi jadi pengurus periode mendatang,” ujar Nurul.

Ada pekerjaan besar yang akan dihadapi pengurus IAI mendatang yakni mengawal lahirnya Undang-undang kefarmasian yang sedang digodok pemerintah dan DPR. “Kita bisa bayangkan negara sebesar Indonesia ini belum memiliki undang-undang kefarmasian. Padahal yang namanya sedia farmasi itu salah satu unsur dari ketahanan bangsa,” ujar Nurul.

Selain pemilihan pengurus baru, Kongres IAI merupakan ajang silaturahmi jajaran pengurus  dengan para anggotanya untuk menghasilkan keputusan berupa naskah dan pedoman umum organisasi sebagai acuan bagi pengurus periode berikutnya selama 4 (empat) tahun ke depan.

Bersamaan dengan pelaksanaan Kongres, diadakan juga Pekan Ilmiah Tahunan 2018, sebagai ajang bagi para apoteker untuk menjaga dan meningkatkan kompetensi, baik sebagai praktisi, akademisi maupun birokrat. Pekan Ilmiah Tahunan merupakan agenda rutin setiap tahun yang mengikut kegiatan Rakernas atau Kongres.

Pelaksanaan Kongres XX dan Pertemuan llmiah Tahunan 2018 ini direncanakan akan dibuka secara resmi pada hari Kamis, 19 April oleh Menteri Kesehatan RI, serta Keynote speech oleh Menteri Perindustrian RI dan UKAI, sedangkan kongres akan dimulai pada Rabu, 18 April 2018.

Untuk memperkaya wawasan akan hadir sebagai narasumber, yaitu Menteri Kesehatan RI, Kepala Badan POM RI, Ketua Komite Farmasi Nasional, pejabat eselon 1 dan 2 di lingkungan Kementerian Kesehatan RI dan Badan POM RI, Kementerian Perindustrian, para pimpinan lembaga non pemerintahan serta para praktisi dan akademisi dari dalam dan luar negeri.

Hingga saat ini sudah lebih dar 1.700 Apoteker dari seluruh Indonesia yang mendaftar untuk menjadi peserta. Jumlah itu dimungkinkan akan terus bertambah, mengingat panitia masih membuka pendaftaran di tempat, saat hari H.

Selain melaksanan Kongres XX dan PIT IAI 2018, para peserta juga dijadwalkan akan melakukan kunjungan ke berbagai obyek wisata di Pekanbaru. Kunjungan ribuan apoteker ke Pekanbaru akan meningkatkan perhatian masyarakat terhadap potensi wisata dan budaya daerah tersebut.

(a yen; foto mm

Bagikan tulisan ini melalui...

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*