400 Guratan 'Kembara Roso' 70 Tahun Maestro Lukis Srihadi di GNI

Jakarta,-

Menelusuri perjalanan 70 tahun seni lukis Srihadi Soedarsono menggelar 400 guratan karyanya dalam pameran besar 70 Tahun Rentang Kembara Roso di Galeri Nasional Indonesia (GNI) pada 11-21 Februari 2016 mendatang.

Ratusan karyanya sejak 1946-2015 di atas media kertas menjadi karya periode penting dalam proses kreatifnya pada pameran kali ini, papar A Rikrik Kusmara selaku kurator.

Meliputi poster-poster perjuangan di era Revolusi Kemerdekaan RI, cat air, drawing sketsa, dan lukisan pastel. Disamping tujuh lukisan dengan tema penari Bedoyo, Borobudur, pemandangan ritual, masyarakat petani dan penari Bali, berukuran di atas satu meter sebagai pencapaian estetika terbarunya.

Prof. KRHT, H. Srihadi Soedarsono Adhikoesoemo, MA, sejak usia 14 tahun telah menjadi seorang pewarta gambar di Tentara Pelajar hingga dikenal di berbagai pentas seni rupa manca negara. Tak heran karyanya banyak diburu kolektor dalam dan luar negeri.

Meski ia tidak memiliki pendidikan formal (seni  lukis) saat muda, toh sebagian besar waktunya untuk membuat sketsa; ia berkenalan dengan para seniman yang berkarya di Yogyakarta selama revolusi.

Setelah menyelesaikan sekolah menengahnya di Solo dan kembali ke Yogyakarta setelah penyerahan kembali kedaulatan RI, ia belajar dengan S. Sudjojono. Ia mendaftarkan sebentar di Universitas Gadjah Mada, tetapi segera menetapkan diri untuk pergi ke Bandung, tempat ia pada tahun 1953 memasuki Sekolah Seni Rupa.
Tahun 1959 ia meraih gelar sarjana seni rupa dari ITB.

Kemudian melanjutkan studinya di Ohio University AS melalui beasiswa ICA sampai 1962 untuk mendapatkan MA. Tahun 1971 menerima Anugerah Seni RI. Tahun 1973 mendapat Cultural Award dari Australia, tahun 1978 dan 1987 mendapat Penghargaan Lukisan Terbaik, Pameran Biennale Dewan Kesenian Jakarta serta medali perak Seoul International Art Competition, 1985. Disela-sela hal tersebut tahun 1979 sampai 1980 ia kembali mendapat beasiswa Fulbright Hays, di Ohio State University, Amerika.

70 tahun penjelajahan abstraksinya yang bersifat liris menjadi kekuatannya yang khas. Abstraksi figur dan imajinasinya pada alam mencapai perasaan meditatif yang dalam lewat warna jernih dengan guratan sapuan lebar. Nilai spiritualitas itu didalami juga lewat penghayatan  filosofi Zen Budisme.

(mdtj; foto muller

Bagikan tulisan ini melalui...

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*