'Art-Chipelago' Identitas Bukanlah Final

Pameran Seni Rupa Nusantara 2015

Jakarta,-

Penyelenggaraan akbar ke-8 event  duatahunan (biennale) ini dihelat untuk memberikan kesempatan dan peluang bagi para perupa di Nusantara untuk menunjukan potensi, kreativitas dan eksistensinya. Pameran Seni Rupa Nusantara kali ini mengusung tema ART–CHIPELAGO.

ART–CHIPELAGO menilik pada persoalan politik identitas, yang pada gilirannyabersentuhan dengan politik kebudayaan. Terutama pada persoalan politik representasiyang tidak kalah problematikanya, pada setiap pembicaraan mengenai wacana identitas. Dengan kata lain, ART–CHIPELAGO memandang bahwa identitas bukanlah sesuatu yang final, karena terus berubah, berkembang, dan berfluktuasi dengan segala pengaruh sosial, kultural, hingga efek dari berkembangnya budaya media dan teknologi. Sekaligus menggali sejauh mana konteks kenusantaraan dialami, dibaca, dan diwacanakan oleh para perupanya.

ART–CHIPELAGO melihat kenusantaraan melalui perspektif ART, bagaikan sebuahkepulauan seni yang melampaui batas dan gugus territorial, melalui ART teritori yangdiimajinasikan ulang, bahwa melalui fakta geografis yang tercerai-berai berdasarkangaris-garis teritorial itu pada awalnya terhubung dalam sebuah daratan.

Tentunya, berangkat dari kesadaran pengalaman sosial dan kultural dari berbagai generasi dan tempat, ART–CHIPELAGO ingin membentangkan apa yang dibayangkan oleh para perupa mengenai konsep kenusantaraan.

Galeri Nasional Indonesia yang menggelar Pameran Seni Rupa Nusantara 2015, Art-Chipelago, oleh Tim Kurator Suwarno Wisetrotomo, Asikin Hasan, dan A. Sujdud Dartanto,  dirumuskan untuk memperluas cakupan pemikiran dan praktik seni rupa itu oleh pelukisnya sendiri.  Oleh karenanya sejumlah perupa dari negara tetangga pun terlibat didalamnya.

Ajang akbar ini menampilkan 106 karya hasil olah cipta 106 perupa yang berasal dari Indonesia, Malaysia, dan Filipina. 97 diantaranya merupakan peserta lolos seleksi dari 23 provinsi di Indonesia, yang disaring dari 527 aplikasi karya hasil olah cipta 385 perupa dari 25 provinsi di Indonesia.  Sedangkan 9 perupa lainnya merupakan peserta yang diundang secara khusus.

Para perupa tersebut menampilkan karya lukis, drawing, Instalasi, object, seni grafis, keramik, komik, video art, multimedia, dan karya seni rupa lainnya.

(TC Sulistyo/foto muller )

Bagikan tulisan ini melalui...

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*