Conversation Entang Wiharso dan Sally Smart

‘Endless Acts in Human History’

Jakarta,-

Membuka tahun baru 2016, Galeri Nasional Indonesia mempersembahkan ‘Conversation’ seniman Australia Sally Smart dan seniman Indonesia Entang Wiharso dalam sebuah dialog seni bertajuk ‘Endless Acts in Human History’, yang akan dihelat sepanjang 14 Januari – 1 Februari 2016 mendatang di Jakarta.

Untuk pertama kalinya, Smart dan Wiharso berpameran bersama dalam skala besar, sekaligus berdialog mengupas masing-masing karya mereka. Conversation: Endless Acts in Human History menjadi kolaborasi unik antara dua seniman yang saling menghargai kehebatan sinergi dan perbedaan budaya pada karya mereka itu. Dialog dan diplomasi sebagai sistem yang berhubungan, diciptakan melalui aspek sosial dan budaya, yang pada akhirnya terhubung dengan individu, institusi dan negara.

Dipamerkan di areal utama Galeri Nasional, Conversation menampilkan seni patung, lukisan dan instalasi yang indah, juga dengan karya yang berhasil mendorong kesuksesan karir Wiharso maupun Smart. Menjelajahi hubungan konsep dan praktek formal mereka melalui ide dan gambaran pribadi juga politik, dengan merepresentasikan kehidupan benda dan dunia alamiah. Pada konteks ini, Smart dan Wiharso menjelajahi kerumitan dari hubungan pribadi (terdiri dari tanggapan/tindakan/reaksi/interaksi), praktek kreatif dan tingkatan sosial juga tindakan artistik.

“Saya dan Sally memiliki minat yang sejalan dan berbagai ide yang berbeda kerap bermunculan untuk karya kami, seperti tubuh dan organ, perbatasan dan tepian, sejarah, kolonisasi, gambaran seni dan seni politik. Dan kami menggunakan potongan sebagai konsep karya kami, ” jelas Wiharso dalam sebuah kesempatan. Dengan kata lain, ini merupakan tindakan kepercayaan dan pertemanan, sebuah percakapan berkesenian antara kedua seniman dalam pameran yang luar biasa.

The Indonesian Pavilion pada The 51st Venice Biennale 2005 silam, menjadikan Wiharso piawai menyatukan bahasa pribadi saat menciptakan karyanya untuk menyatakan identitas, kebenaran sejarah dan narasi sosial-nya. Karyanya adalah pengalaman pribadinya yang digunakan untuk menjelajah kondisi negaranya, seperti kasih sayang, kebencian, fanatisme, agama, dan ideologi.

Begitupun karya utama Wiharso, Chronic Satanic Fences, 2010, menggambarkan pagar baja yang didukung dengan kayu tradisional menjadi bagian dari Voyeuristic Impulse dimana dirinya mempresentasikan figur yang mengerikan dan berbasis binatang dengan penekanan pada setiap bagiannya. Sebuah studi yang menyatakan seberapa mendalam keinginan dan kekuatan moral yang dapat melesat ke fanatisme dan kecaman.

Karya utamanya yang lain seperti perjalanan keluarga Tableaux Ofan Ominous, Reclaim Paradise: Paradise Lost, 2015, yang terdiri dari hutan dinding bambu yang menggambarkan ancaman dari pasukan yang tak terduga. Selain memamerkan Self-Portrait, 2015, sebuah karya dengan kombinasi ribuan gambar yang berhubungan dengan kenangan pribadinya, acara-acara publiknya yang bersumber dari internet dan difoto melalui iPhonenya.

Karya Wiharso lainnya seperti masalah sandera saat Olympics pada tahun 1972, figur budaya pop seperti Bruce Lee, peluncuran proyek pemerintah yang besar oleh Mantan Presiden Suharto dan istrinya Bu Tien, serta peristiwa yang terjadi sebelum beliau lahir, yakni kudeta komunis 1965 di Indonesia yang diciptakan secara mendalam melalui cerita ibunya dan propaganda pemerintah.

Seniman Kontemporer

Sedangkan Sally Smart, salah satu seniman kontemporer Australia, telah berkarya dengan melibatkan identitas politik, ide yang berkaitan dengan tubuh, rumah dan sejarah. Smart memamerkan karyanya di berbagai belahan dunia secara rutin. Di ‘Conversation’, Smart sekali lagi akan memamerkan The Exquisite Pirate, 2005-2010, yang telah berkembang sebagai sebuah ide melalui berbagai literasi global, dan menggambarkan bajak laut wanita sebagai metafora terhadap isu global kontemporer seperti isu identitas pribadi dan sosial, ketidakstabilan budaya, imigrasi dan hibriditas.

Dan salah satu karya seni kontemporer utamanya yakni The Exquisite Pirate, mencerminkan simbolisme kapal dan relevansinya dengan wacana pra-kolonial dan implikasi terhadap kontemporer sejarah Australia. Dia juga menanggapi hubungannya dengan Asia melalui eksibi di Wiharso’s Black Goat Studios di Indonesia. Bahkan sebuah karya monumentalnya, Global Garden, 2015, merepresentasikan sebuah pertunjukan yang digambarkan melalui gabungan potongan dan elemen fotografi juga komponen video, sekaligus menggabungkan seri terbarunya ‘The Choreography of Cutting.’

Seni Instalasi terbarunya, Jogja House/Daughter Architect, 2015, mencerminkan abstrak dan merepresentasikan detil rumah Indonesia / teras / taman / struktur, dirakit dan dibangun dalam gambar dua dimensi, dan dihubungkan dengan ruang teater untuk pertunjukan atau panggung wayang.

Enthang Wiharso adalah penerima berbagai penghargaan dan menjadi tuan rumah seperti di Pollock-Krasner grant, a Copeland Fellowship di Kampus Amherst, tuan tumah di Robert Wilson’s Watermill Center dan di institusi Singapore Tyler Print; Wiharso juga telah memamerkan karyanya ke berbagai belahan dunia, merepresentasikan Indonesia dalam acara terkemuka berskala internasional.

Entang Wiharso telah memilih berbagai karya untuk pameran solonya yang meliputi Perfect Mirror, Bernier/Eliades Gallery, Atena (2015); Never Say No, Institusi Singapore Tyler Print, Singapura (2015); Entang Wiharso, Marc Straus Gallery, New York (2015); Untold Stories, Dirimart, Istanbul, Turki (2015);Trilogy, ARNDT, Singapura (2014); Love Me or Die, Galeri Nasional Indonesia, Jakarta (2010) juga dengan beberapa pilihan untuk pameran kelompok seperti Love: The First of the 7 Virtues, Hudson Valley Center for Contemporary Art, Peekskill, New York (2015); Open Sea, Musée d’art Contemporain, Lyon, Prancis (2015); Six Degrees of Separation, Galeri Canna, Jakarta (2015); Prospect.3, New Orleans (2014-15);Mooi Indie– Beautiful Indies, Indonesian Art Now, Samstag Museum of Art, Adelaide, Australia (2014); All You Need Is Love, Mori Art Museum, Tokyo, Jepang (2013); the 55th and 51st Venice Biennales (2013, 2005); Prague Biennale 6 (2013); Panorama: Recent Art from Contemporary Asia, Singapore Art Museum (2012); dan A Transversal Collection: From Duchamp to Nino Calos, from Cattelan to Entang Wiharso, Arte Contemporanea ALT – Arte Lavoro Territorio, Bergamo, Itali (2009). Wiharso juga diwakili dalam berbagai koleksi ternama seperti the Guy and Myriam Ullens Foundation, Swiss; the Olbricht Collection, Jerman; the Indonesian Art Institute, Yogyakarta; the National Gallery of Victoria, Melbourne, Australia; the Rubell Family Collection, Miami, USA; dan the Singapore Art Museum.

Sementara Smart adalah penerima berbagai penghargaan dan telah menjadi Sackler Fellow Artist-in-Residence di the Art and Art History department of the University of Connecticut, mendapatkan penghargaan sebagai dewan persahabatan di Australia, dia juga merupakan dewan senior di the School of Art, VCA & MCM, Universitas Melbourne, dan mendapatkan penghargaan a major public art commission, 2012 -2014, Shadow Trees, Buluk Park, Melbourne, Australia.

Sally Smart telah memilih beberapa karya untuk pameran solonya seperti The Choreography of Cutting, Purdy Hicks Gallery, London (2015); The Pedagogical Puppet, Contemporary Galleries, University of Connecticut, USA (2012); Flaubert’s Puppets Postmasters Gallery, New York (2011) dan beberapa untuk pameran kelompok seperti Six Degrees of Separation, Galeri Canna, Jakarta (2015); Para-Real, 601 Artspace, New York (2014); Negotiating This World – Contemporary Australian Art, National Gallery of Victoria (2013);Contemporary Australia: Women, Gallery of Modern Art (GOMA) Queensland Gallery of Art (2012) dan No-Name Station, Iberia Center for Contemporary Art, Beijing, Cina. Smart juga diwakilkan dengan berbagai koleksi publik dan pribadi, termasuk National Gallery of Australia, Canberra; National Gallery of Victoria, Melbourne; The Art Gallery of South Australia, Adelaide; GOMA/Queensland Art Gallery, Brisbane; Museum of Contemporary Art, Sydney; The University of Melbourne Art Collection, Melbourne; Chartwell Collection, Auckland Art Gallery, Toi o Tamaki, Auckland, New Zealand; Herbert F. Johnson Museum, Ithaca, NY, USA; The William Benton Museum of ArtConnecticut’s State Art Museum, USA; British Museum, London, UK; Deutsche Bank, Frankfurt, Jerman; dan the International Collage Center, Pennsylvania USA.

Conversation: Endless Acts in Human History diselenggarakan oleh Galeri Canna dengan kurator Suwarno Wisetrotomo (IDN) dan co-kurator Natalie King (AUS). (mull/mdtj; foto dok

Bagikan tulisan ini melalui...

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*