Jangan Kesampingkan Peran Kerajaan dan Kesultanan Nusantara Bagi Kemerdekaan Indonesia

ThreeVenue, Jakarta,-

Patuan Daulat Sutan Palaon, Tondi Hasibuan, BA, MA., Raja Huristak XII – Padang Lawas, Sumatera Utara, bergelar Patuan Daulat Sutan Palaon, menegaskan harapannya agar pemerintah benar-benar serius dan konsisten melakukan perhatian memberikan kontribusi demi terpeliharanya adat istiadat dan budaya nusantara itu sendiri. Bahkan kerajaan-kerajaan di Padang Lawas telah turut berkontribusi dalam kemerdekaan Indonesia.

“Jadi kita harapkan pemerintah tidak mengesampingkan kerajaan dan kesultanan yang dulu ikut berjuang bersama Indonesia,” ungkapnya lagi disela Silaturahmi Nasional Raja dan Sultan Nusantara V, di MPR RI, Jakarta (27/7).

Seperti dijetahui Silahturahmi Nasional Raja dan Sultan Nusantara V – 2017, diadakan di Gedung Nusantara IV MPR DPR MPR RI, Jalan JenderaI Gatot Subroto, mengagendakan pertanggungjawaban Kinerja Badan Pengurus Silatnas Raja Sultan Nusantara Indonesia dan evaluasi 5 (lima) Komitmen para Raja dan Sultan Nusantara, serta rencana pembangunan Galeri Nasional Kawasan Pusat Budaya Nusantara, sesuai Rekomendasi Nomor. 050/2015/disbudpar, tertanggal 8 Juni 2010, perihal dukungan terhadap rencana pembangunan Galeri Nasional dengan ketersediaan Iahan seiuas 300 Ha (tiga ratus hektar) di wilayah Kabupaten Karawang.

Disamping pemanfaatan UNDANG UNDANG NOMOR. 5 Tahun 2017, tentang PEMAJUAN KEBUDAYAAN; Pemiiihan Sekretaris Jenderal Badan Pengurus SILATURAHMI NASIONAL RAJA SULTAN NUSANTARA INDONESIA, Periode 2017- 2022;  Rencana pogram kerja Jangka Pendek. Menengah dan Panjang BP. SILATNAS RAJA SULTAN NUSANTARA INDONESiA; dan Penjeiasan atas kesepakatan rencana kegiatan SILATNAS RAJA DAN SULTAN NUSANTARA VI – 2019, di Yogyakarta.

Sebelumnya dalam SILATNAS RAJA DAN SULTAN NUSANTARA IV -2015, di Puri Agung Klungkung, Provlnsi Bali, yang bertepatan dengan Harl JadI Kabupaten Klungkung ke 23, dan PerIngatan Puputan Klungkung ke 107 (27 April 1908), dan dIhadIrI 202 (dua atus dua} Raja, Sultan, Datu, Ratu, Pewaris, Penerus, serta 57 Permaisuri,  Putra – Putrl dan Pangeran, termasuk 39 Bangsawan Internasional, yang berasal darI AmerIka, Jerman, Pakistan, Korea, Malaysla, SIngapura, FIIIpIna, dan Indla, menyepakati perhelatan ini dapat sejaIan dalam memelihara, menjaga dan mengembangkan Peradaban, Adat – Istiadat dan Budaya sehingga Daerah dan Masyarakat dapat Iebih sejahtera dalam kehIdupan ekonomi kerakyatannya.

Seperti diketahui agenda Silaturahmi Nasional Raja dan Sultan Nusantara telah disepakati menjadi agenda dua tahunan. Sekaligus melibatkan Bangsawan Internasional, untuk mempererat hubungan yang baik diantara Bangsa-Bangsa di dunia serta membuktikan bahwa Indonesia dapat menciptakan kedamaian.

SILATNAS RAJA DAN SULTAN NUSANTARA II 2011, di Gedung Merdeka, Museum Konperensi Asia Afrika, Bandung, Jawa Barat, dihadiri 201 Raja, Sultan. Datu, Ratu, Pawaris dan Penerus Kerajaan dan Kesultanan, serta Kedatuan Nusantaea, serta 57 Permaisuri, Putra-Putri Mahkota, dan Pangeran dari Kerajaan dan Kesultanan serta Kedatuan Nusantara indonasia, serta 4 Bangsawan lnternasional dari Belanda, Malaysia, Philippine dan Amerika.

SILATNAS RAJA DAN SULTAN NUSANTARA III 2013, diselenggarakan di wiiayah bekas saiah satu Kerajaan tertua di Pulau Jawa yaitu Kerajaan Singosari, tepatnya di Kota Maiang, Provinsi Jawa Timur; di Taman Krida Budaya Jawa Timur, Kota Maiang, Provinsi Jawa Timur. Mengagendakan Rencana Pembangunan GALERI NASiONAL KAWASAN PUSAT BUDAYA NUSANTARA, seluas 300 Ha (tlga ratus hektar) yang berada di Kabupaten Karawang, serta penandatangan batu Prasasti PERDAMAIAN DUNIA MELALUI ADAT ISTIADAT DAN BUDAYA, dan pengusuian kepada Pemerintah Repubiik indonesia agar CANDI SONGGORITI yang terietak di Kota Batu Maiang, Provinsi Jawa Timur untuk dimasukkan sebagai saiah satu WARISAN DUNIA miiik Bangsa dan Negara Indonesia;

Dihadiri 174 Raja, Sultan, Datu, Ratu, termasuk Pewaris dan Penerus Kerajaan dan Kesultanan, serta Kedatuan, dan 54 Permaisuri, Putra Putri, Pangeran, serta 12 Bangsawan internasional, yang berasal dari Malaysia, Thailand, Korea, india, Amerika, Fiiipina, dan Singapura;

SILATNAS RAJA DAN SULTAN NUSANTARA didasari darl rasa kebersamaan diantara para Raia, Suitan, Datu, Ratu, Pewaris dan Penerus Kerajaan dan Kesuitanan serta Kedatuan Nusantara Indonesia, untuk dapat bersatu daiam memeiihara, menjaga dan mengembangkan Adat-Istiadat dan Budaya serta Peradaban yang ada dI Indonesia yang merupakan kekayaan Bangsa dan Negara indonesia.

18 Desember 2008, di Gedung Perpustakaan Nasionai. JI. Salemba Raya No.28, Jakarta Pusat indonesia, saat itu; Raja Samu Samu VI De Laatste Van Konin Stamboom YM. Upu Latu M. L. Benny Ahmad Samu Samu, bersama Sultan Ternate YM. Mudaffar Syah Aim), Sultan Muda Banten -YM. Tubagus lsmetuiiah AI-Abbas (Aim), Raja Rohomoni YM. Fachrl Sangaji, Putri Raja Sran Kaimana Papua -YM. Heidy Diana Achmad Aituarauw, menggagas untuk mengadakan suatu keglatan daiam rangka menyatukan seiuruh Raja, Sultan, Datu, Ratu, termasuk Pewaris dan Penerus Kerajaan dan Kesuitanan, serta Kedatuan yang aktif daiam forum/Organsiasi Raja dan Sultan untuk bersama sama mencapai maksud dan tuiuan yang sama.

Oieh karena itu Yth. Presiden Republik Indonesia Prof.Dr. Susiio Bambang Yudhoyono memberikan ijin untuk pembukaan SILATNAS RAJA DAN SULTAN NUSANTARA I -2009, 7 Agustus 2009 di Istana Merdeka -Jakarta, yang dihadiri oIeh 135 Raja, Sultan. Datu, Ratu, Pewaris dan Penerus Kerajaan dan Kesultanan, serta Kedatuan Nusantara serta 15 orang terdiri dari Permaisuri, Putra Putri Mahkota, dan Pangeran dari Kerajaan dan Kesultanan serta Kedatuan Nusantara Indonesia.

(tjo; foto ist

Bagikan tulisan ini melalui...

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*