Masa Depan Tak Bisa Meng-ada
Tanpa Masa Lalu dan Masa Sekarang

ThreeVenue, Jakarta,-

Masa depan akan selalu berkaitan dengan perkembangan-perkembangan yang terjadi baik dari segi budaya, sosial, sampai kehidupan sehari-hari. Namun pada akhirnya, imajinasi akan masa depan dapat menjadi sebuah kepastian, harapan, juga usaha pencegahan atas situasi-situasi yang telah atau sedang terjadi di sekitar kita. Kemungkinan-kemungkinan tersebut didasari oleh pengamatan dan pengalaman manusia dalam melihat kondisi pribadi dan sosialnya.

Melalui karya-karya para seniman dalam pameran Yes, The Future Has Been Sold, yang menampilkan 11 karya 7 seniman (Aprilia Apsari, Daniella F. Praptono, Hauritsa, Henry Foundation, Mushowir Bing, Putri Ayu Lestari serta Reza Afisina), sepanjang 28 Juli – 18 Agustus 2017 di Gedung D Galeri Nasional Indonesia, akan didapati bahwa masa depan tak bisa meng-ada tanpa adanya masa lalu (the past), dan yang sekarang. Pada akhirnya, konsep masa depan yang telah diciptakan para seniman di pameran ini dapat terjadi kapan saja, dan untuk siapa saja.

Aprilia Apsari (Sari), misalnya, mengambil inspirasi dari aktivitas di sosial media, terutama di Instagram, tepatnya ketika semua orang mengunggah kesenangan dan kegiatan bertamasya. Masyarakat kota, khususnya Jakarta, sibuk berlembur mencari nafkah setiap harinya agar di pengujung tahun mereka dapat menikmati hasilnya dengan berlibur. Melalui Dana Express, Sari memandang masa depan melalui sudut pandang tradisional, yaitu suatu masa yang akan datang, atau berada di depan. Berdasarkan pengamatannya melalui media sosial, ia memandang bahwa liburan menjadi salah satu tujuan masyarakat kota ketika mereka bekerja dan mengambil jam lembur. Sari kemudian mengimajinasikan sebuah masyarakat “kejar setoran” yang mendambakan suatu masa di depan sana, di mana mereka bisa terbebas dari pekerjaan dan suasana kota.

Dengan fethisisme semacam itu, capaian kerja potensial akan dinomorduakan selama itu tak mengurangi jumlah nominal gaji yang akan diterima, sebab mereka memandang pekerjaan, yang telah menjadi rutinitas yang membosankan, sebagai jeda dari satu liburan ke liburan berikutnya. Dana Express, dalam bentuk iklan pariwisata, memperlakukan yang sekarang (the now) sebagai momentum sekunder, dan dengan demikian karya ini pun bisa dipandang sebagai kritik atas perilaku masyarakat pemuja liburan.

Sementara Dana Express menjual imajinasi tentang hari esok (hari libur yang berada di pengujung tahun) Siasat menawarkan percepatan untuk mengatasi yang sekarang.

Sama halnya dengan Dana Express, karya Mushowir Bing ini pun mengadopsi gaya bahasa iklan—dalam hal ini adalah iklan kendaraan bermotor. Ia mengamati budaya visual iklan mobil dan sepeda motor zaman dulu, dan beranggapan bahwa saat itulah awal mula orang-orang mulai membeli kendaraan pribadi. Sebagai pengendara roda dua, ia bertanya-tanya mengenai awal mula produsen kendaraan mengiklankan produk-produknya, hingga pada akhirnya orang-orang dapat membelinya.

Sebagai konsep yang berkaitan dengan imajinasi tentang suatu budaya yang dikonstruksikan cepat, praktis, dan mudah, “masa depan” telah menyediakan ruang bagi produsen otomotif untuk menjual produk-produk mereka. Mobil, dan sepeda motor adalah dua dari sekian produk yang dapat mempermudah masyarakat commuter menjalani rutinitas mereka.

Melalui iklan, produsen-produsen itu pun membuat produk-produk mereka menjadi representasi masa depan itu sendiri sehingga mereka yang tak mampu memilikinya akan dipandang atau merasa terbelakang. Besarnya jumlah pengguna kendaraan pribadi di Jakarta pada akhirnya membuat Siasat seolah menggarisbawahi judul pameran ini, Yes, the future has been sold.

Pengalaman tentang kematian tak pernah dialami oleh mereka yang pergi, melainkan oleh mereka yang ditinggalkan. Melalui Warisan, Putri Ayu Lestari meramalkan masa depannya sendiri. Ramalan tersebut bertolak dari pengalamannya tentang ibu dan neneknya yang meninggal dunia karena mengidap kanker payudara. Karya sablon Warisan mengilustrasikan perempuan yang mengidap kanker payudara.

Dengan Warisan, Ayu berusaha untuk berdamai dengan masa lalunya, sebab seperti mereka yang membutuhkan reklame pariwisata atau kendaraan bermotor, perdamaian itu pun Ayu butuhkan dalam usahanya untuk melampaui yang sekarang.

Tiga karya tersebut di atas mengolah ide tentang masa depan dalam kaitannya dengan yang sekarang. Dalam hal ini masa depan digagas untuk melampaui yang sekarang. Dana Express seperti seikat rumput di depan moncong keledai, agar si keledai terus bergerak maju, sementara Siasat seperti roda pada gerobak yang harus ia tarik, agar beban yang ia tanggung tak terlalu berat. Sementara itu, Warisan tak ubahnya takdir baginya. Ia harus menghadapi siapa dirinya setiap hari; seekor keledai yang harus menarik beban setiap hari.

Sementara itu, Daniella Fitria Praptono beranggapan bahwa masa depan adalah anak-anak. Kini, tumbuh kembang anak-anak dipengaruhi oleh teknologi, pendidikan, dan lingkungan. Ia beranggapan bahwa pendidikanlah yang terpenting bagi mereka.

Karya Agreement of Hopes and Dreams dibagi menjadi dua. Karya pertama menggabungkan drawing dan etsa, sedangkan karya kedua bersifat interaktif dan dihasilkan melalui kegiatan lokakarya. Masih membicarakan anak-anak, Henry Foundation mencoba membongkar dan merangkai ulang koleksi doodling anak-anaknya menjadi bentuk-bentuk visual baru.

Bagi Henry, gambar atau doodling mengungkap proses perkembangan kemampuan imajinasi anak-anak dalam menggambar dan menulis. Karya Ibuh Philo Miro KO merupakan seri sablon yang ia dedikasikan untuk anak-anaknya jika sudah besar nanti.

Dua karya seniman yang disebut belakangan ini memperlakukan masa depan sebagai sesuatu yang harus dipersiapkan dari sekarang. Hal serupa juga dilakukan oleh seniman berikutnya, Reza ‘Asung’ Afisina, yang mengolah ilustrasi proses sterilisasi manusia atau vasektomi (pria), dan tubektomi (perempuan), dua proses yang mencegah terjadinya pembuahan pada manusia.

Tapi berbeda halnya dengan Agreement of Hopes and Dreams-nya Daniella dan Ibuh Philo Miro KO-nya Henry, yang cenderung optimis dalam merancang masa depan, Asung, dalam karya yang kemudian ia beri judul Dalam Upaya Mengurangi Individu dan Mencegah Lahirnya Senjata Masa Depan ini, memandang masa depan dengan sudut pandang yang pesimistis.

Pesimisme terkait masa depan juga bisa dibaca pada karya Hauritsa, yang mengangkat konsep tentang yang tersembunyi melalui karyanya yang berjudul Hidden. Karya ini ia presentasikan dengan media cukilan (cetak tinggi) yang kemudian dicetak tanpa tinta (blind emboss), di mana gambar yang tercetak akan nampak samar-samar.

Hidden mengetengahkan keinginan tersembunyi seseorang ketika ia membantu sesamanya. Keinginan tersebut tak lain adalah pamrih. Dengan demikian, ia memandang bahwa tidak ada yang cuma-cuma di masa depan.

(tjo; foto mm

Bagikan tulisan ini melalui...

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*