Mengembalikan ‘Ruang Budaya’ Istana Kepresidenan

Jakarta,-

Di era Presiden Sukarno, di seluruh Istana Kepresidenan diberikan visi “ruang budaya” guna mengakomodasi kegiatan artistik, informal, dan inklusif di luar agenda resmi kenegaraan sebagai Presiden, baik formal maupun informal. Adapun karya seni yang ada di Istana sebagian besar adalah koleksi Presiden Soekarno. Ada 2.700 lukisan, 1.600 patung, dan 11.800 karya kriya atau kerajinan.

“Aura Istana Kepresidenan begitu dekat dengan rakyat,” tutur Eko Sulistyo, Deputi IV Kantor Staf Kepresidenan, dalam seminar  “Karya seni rupa dan sejarah Indonesia dalam perspektif Istana” di Galeri Nasional, Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta. Sebagai bagian rangkaian kegiatan pameran lukisan Istana Kepresidenan “17/71: Goresan Juang Kemerdekaan”.

Narasumber lain yang juga hadir di antaranya Hilmar Farid, Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan & Kebudayaan; Guruh Sukarno Putra, Budayawan sekaligus Ketua Yayasan Bung Karno; Mikke Susanto, Kurator dan staf pengajar pada ISI Yogyakarta.

Ruang budaya dibutuhkan dalam lintas politik, strata, dan lintas ideologi sebagai sebuah ruang penuh rasa persatuan. Lewat kekayaan seni yang dimiliki oleh Sukarno, ia menjadikan Istana sebagai sebuah media ‘diplomasi budaya’ bagi pemerintah Indonesia.

Eko beranggapan, dengan menjadikan Istana sebagai ruang budaya, tentunya hal tersebut takkan dapat dilepaskan dari sosok Sukarno yang memiliki jiwa seni. Lahir dari seorang wanita berdarah Bali, Ida Ayu Nyoman Rai. Dan Bali memiliki seni yang telah menjadi roh dalam setiap aspek religi hingga filosofi kehidupan masyarakatnya.

(mdtj; foto alicia

Bagikan tulisan ini melalui...

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*