Nautica Rasa,
Cara ‘Susi’ Berlaku Posesif atas Laut

Jakarta,-

Dibuka dengan penampilan tari betawi Lenggang Nyai, alunan angklung Kang Asep dan lantunan seriosa Rayuan Pulau Kelapa yang syahdu, Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, didampingi Kepala Galeri Nasional Indonesia Tubagus Andre, Fahmi Idris, HS Dillon, serta perwakilan Barli Ciptasasmita dan sejumlah seniman, membuka 120 karya lukis dari 120 perupa dalam Pameran Nautika Rasa, Seni Rupa & Imaji Bahari, 14-25 September 2016, di Gedung A Galeri Nasional Indonesia, Gambir, Jakarta Pusat (14/9).

Susi Pudjiastuti dalam kesempatan tersebut mengingatkan bahwa dibalik pameran ini terkandung tanggungjawab yang besar untuk melindungi Indonesia dari ilegal fishing yang merampas bawah laut yang sangat indah,  kehancuran karang,  ikan-ikan yang sudah tidak ada, dan sebagainya.

“Posesif atas laut menjadi kekuatan untuk melindungi, kekuatan untuk terus memelihara sense of belonging. Terlebuh atas ketakutan akan keindahan laut yang hilang dalam arti seluasnya. Karena tanpa kehatian-hatian laut di masa depan hanyalah tinggal sebuah cerita bila kita tidak menyadari dan melindunginya. Jangan sampai kesadaran kita seperti tikus mati di dalam lumbung. Kita harus menjaga kelautan kita sedikit posesif. Kita bukan bangsa ekspansi maka wajar bila kita posesif dalam melindungi ,” tegas Susi Pudjiastuti.

Sementara Rizki A. Zaelani, selaku Kurator menggarisbawahi bahwa pameran ini, hendak menyusuri luasnya lautan perasaan yang tak bertepi itu melalui tema-tema pemandangan, keadaan, bahkan persoalan bahari melalui cermin dimensi perasaan para seniman sendiri. Dan para seniman tentu punya cara untuk memahami realitas yang biasanya dikenal melalui nilai sensasi pengalamanan yang dihadapinya. Ia kemudian menyatakan realitas tersebut sebagai kenyataan yang khas.

Dan proses kreasi para seniman, lanjut Rizki, memberikan contoh bahwa ‘tak ada yang terlihat ‘alamiah’ bagi seseorang yang mencermati alam karena ia ingin menghargainya’. Gambaran perasaan-perasaan ini mungkin saja bisa nampak terasa ‘aneh’ atau ‘berjarak’ dalam caranya menyatakan realitas bahari yang dimaksud. Bagaimanpun, bagi para seniman, itu adalah cara unik untuk menemukan hubungan mereka terhadap ‘tanah dan air’-nya: Indonesia.

(yo/mdtj; foto muller

Bagikan tulisan ini melalui...

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*