Pameran Keliling Seni Rupa Koleksi GNI
“Spirit Khua Jukhai” dan Karya Perupa Lampung

Lampung,-

Pameran Keliling Koleksi Galeri Nasional Indonesia (GNI) kembali di helat di Lampung. Memamerkan dan memperkenalkan karya-karya koleksi negara pada masyarakat luas, yang disandingkan dengan karya para perupa Lampung.

Spirit Khua Jukhai” terlaksana atas kerja sama Galeri Nasional Indonesia dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung, beserta UPTD Taman Budaya Provinsi Lampun, 22-29 Maret 2017, menyajikan sekitar 40 karya dalam berbagai media dan teknik (15 karya pilihan koleksi GNI atsu koleksi negara dan 25 karya hasil olah artistik para perupa Lampung).

Pameran Keliling GNI sebelumnya diselenggarakan di berbagai tempat (lokasi) seperti di Medan, Sumatera Utara (2006); Manado, Sulawesi Utara (2007); Balikpapan, Kalimantan Timur (2008); Ambon, Maluku (2009); Palembang, Sumatera Selatan (2010); Lombok, NTB (2011); Banjarmasin, Kalimantan Selatan (2011); Makassar, Sulawesi Selatan (2012); Pekanbaru, Riau (2013); Pontianak, Kalimantan Barat (2013); Kupang, Nusa Tenggara Timur (2014); Serang, Banten (2014); Malang, Jawa Timur (2014); Daerah Istimewa Yogyakarta (2015); dan Palu, Sulawesi Tengah (2015).

Selain di dalam negeri, Koleksi Galeri Nasional Indonesia juga dipamerkan dalam skala internasional, baik di Kuala Lumpur, Malaysia (2007); Manila, Filipina (2008); Bangkok, Thailand (2009) Hanoi, Vietnam (2010); Tlemcen, Al Jazair (2011), Yangon, Myanmar (2012), Washington D.C., Amerika Serikat (2013); Phnom Penh, Kamboja (2014), Canberra, Australia (2014); dan Frankfurt, Jerman (2015).

Galnas Lampung TV 2Tubagus ‘Andre’ Sukmana, selaku Kepala Galeri Nasional Indonesia, berharap pameran singkat ini, mampu memberikan inspirasi serta edukasi, sekaligus memberi tambahan pengalaman berseni rupa dengan menyaksikan secara langsung karya-karya asli yang memiliki nilai historis dalam sejarah seni rupa Indonesia serta motivasi untuk menumbuhkan kecintaan dan penghargaan kepada para seniman daerah.

Adapun karya koleksi GNI pada pameran ini, lanjut Andre, terdiri dari karya otentik(asli) dan repro. Dari karya koleksi GNI ini kita dapat melihat karya yang lahir terutama sejak era 1800an hingga 1970-an. Dari Raden Saleh, R.Basoeki Abdullah, Affandi, Hendra Gunawan, Henk Ngantung, Mochtar Apin, Kusnadi, Trisno Sumardjo, Ida Hajar, Widayat, AD Pirous, Nyoman Gunarsa, hingga karya perupa Lampung yang dikoleksi GNI yaitu Subardjo, Helmi Azeharie, Eddy Purwantoro.

Sementara 25 karya hasil olah artistik para perupa Lampung dipilih melaui seleksi terbuka berdasarkan pertimbangan tim kurator yang terdiri dari  A. Sudjud Dartanto, David, dan Joko Irianta.

A.Sudjud Dartanto dalam kurasinya mengemukakan bahwa Spirit Khua Jukhai, mengadopsi dari  “Sai(satu), Bumi(Bumi;tanah lampung), Ruwa/Khua(dua), Jurai/Jukhai(kelompok/golongan/keturunan)”. Pada konteks sejarah kebudayaan di Lampung, berbagai eksisten yang ada adalah hasil dari sebuah proses formasi dan reformasi identitas yang panjang dan padat dengan berbagai interaksi sosio-kulturnya, baik dengan campuran antara Jawa, Betawi, dan lain-lain. Sehingga pada ranah sosio-kultural, interaksi antara ‘kaum luaran’ dan ‘dalaman’ ini menghasilkan subturunan yang tak terhingga banyaknya dan telah menjadi bagian total dari apa yang disebut masyarakt Lampung.

Pada titik ini seniman dan karya seni dapat dibicarakan dengan lentur dan bahkan melampaui identitas itu sendiri sebagai sebuah praktik pasca identitas. Dan karya-karya dari 25 perupa Lampung, lanjut Sudjud, datang dengan berbagai corak dan tekniknya. Dari aspel visual ada yang menunjukkan, kecenderungan menampikan figur, alam-benda, hingga bentuk-bentuk simbolik.

Galnas Lampung TV 3Sementara David memberikan catatan pada pada pameran ini, bahwa seni rupa Lampung didominasi oleh pendatang, dengan tidak menghilangkan simbol-simbol kedaerahan, terlihat pada nuansa karya seni dua dimensi saat ini, dengan kecenderungan karyanya masing-masing 25 peserta dari berbagai kabupaten yang ada diprovinsi Lampung.

Bahkan dalam konstelasi perkembangan seni rupa di Lampung, terlihat jelas perubahannya. Terlihat dari kecerdasan cara berpikir, serta pendekatan secara konseptual dengan mengedepankan lokalitas kekaryaan. Kebudayaan lampung terkenal dengan, “Nemui-Nyimah’, berarti sikap pemurah atau tangan terbuka. Nemui-Nyimah ini merupakan ungkapan asas kekeluargaan untuk menciptakan suatu sikap keakraban dan kerukunan serta silarutahim, dalam ranah seni rupa silaturahmi estetika. Sehingga karya-karya yang hadir dalam pameran ini multi persepsi seni; seni sebagai ungkapan kedaerahan.

Seperti “Tidak (gampang) menjadi Lampung” judul karya Pakde Pulung Swandaru, “We’re The One”(kita Adalah Satu), Kelereng karya Helmy Azharie, Kearifan Lokal dikemas dalam bingkai Peristiwa “Sekura Of Lampung” karya Sutanto, “Gemulai Menepis Gemuruh” karya komikus  Ari Susiwa Manangisi, atau karya Salvator Yen Joenaidy pada “Multi Kultur Miniatur Indonesia”.

Sedangkan Joko Irianta, memberikan catatan bahwa karya-karya yang dipamerkan tentu bukan dibanding-bandingkan dengan karya perupa Lampung, tetapi untuk di apresiasi bersama oleh masyarakat Lampung yang mengalami perkembangan seni rupa yang terus berkembang sesuai kondisi daerah setempat. Selain dapat memberikan dan menularkan energi kreatif Lampung, khususnya sejak kehadiran Mamannoor.

(ist/tjo; foto ist

Bagikan tulisan ini melalui...

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*