Perspektif Manajemen Profesional Pertunjukkan Seni Tradisi

Oleh Eny Sulistyowati SPd, SE***)

Jakarta,-

Masyarakat Indonesia, berada dalam tegangan dua kultur. Di satu sisi tetap memegang nilai tradisi (lama), pada sisi lain harus menerima nilai modern (baru), dari kultur asing yang mendunia. Dengan kata lain, terlebih kaum muda, cenderung memilih seni budaya massa (pop), ketimbang budaya lokal, termasuk kesenian tradisi didalamnya. Demikian hal tersebut mengemuka saat  “Bincang Budaya” dengan para Wartawan Forwan (Forum Wartawan Hiburan) Indonesia, di Anjungan DI Yogyakarta, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta Timur.

Seniman yang juga pengusaha ini, yang tengah menyiapkan pertunjukan tari kolosal dalam rangka World Dance Day 2016 (Hari Tari Dunia), di kota Solo, 28-29/04/2016 mendatang, menegaskan bahwa kegelisahan dan keprihatinannya mengenai kesenian tradisi yang semakin redup (akibat tegangan dua kultur tersebut),  seharusnya tak menyurutkan semangat untuk tetap menghidupkan kesenian tradisi. Oleh karenanya pendekatan manajemen kelola pertunjukan profesional dibutuhkan agar seni pertunjukan tradisionil dapat dikelola lebih menarik, estetis, memiliki cita rasa universal, dan tentunya tetap punya ketahanan nilai, seperti yang dilakukannya bersama Tri Ardhika Production.

Jadi harus diakui ada penyebab psikologis dan sosial, mengapa masyarakat terutama anak-anak muda cenderung lebih menyukai seni (budaya) pop? Mereka lebih menyukai hal-hal yang glamour, instan, dinamis, variatif, dan praktis. Sementara kesenian tradisi kita, seringkali kalah menarik dengan sarana dan prasarana, serta artistik pementasan yang terkesan konvensional. Teatrikalnya terasa monoton dan tidak berkembang. Sehingga tak heran jika hal itu kerap memicu pada menyusutnya jumlah penonton pada pementasan seni tradisi.

Sementara terkait perhelatan World Dance Day 2016 (Hari Tari Dunia), dirinya telah menyiapkan sebuah karya kontemplatif, tari ‘Bedhaya.’ Sebagai manifestasi kekuatan batin seorang seniman, tentang kedalaman makna yang disebutnya ‘rasa yang tanpa rasa.’ Sebuah pencapaian tertinggi sejatinya seorang seniman dengan ‘ngrepta’ sebuah ‘Tari Bedhaya’, untuk memberi arti bagi jatidiri bangsanya.

World Dance Day 2016 merupakan berbagai pertunjukan seni, baik seni berbasis klasik tradisi, maupun seni kontemporer, direncanakan menampilkan karya fenomenal spektakuler ‘Solo 24 Jam Menari Non-stop.’ Melibatkan para seniman dari berbagai daerah di Indonesia serta masyarakat dunia dari berbagai manca negara. Perhelatan atas kerjasama Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Pemerintahan Kota Surakarta, dengan Tri Ardhika Production.

(*** Eny Sulistyowati bersama Tri Ardhika Production, terlibat dalam pementasan drama tradisional “Cupu Manik Astagina,” dan “Sumpah Abimanyu.”  Tahun 2013 mementaskan opera sejarah bertajuk ”Ken Dedes Wanita di Balik Tahta” di Jakarta dan Surabaya. Lalu di tahun 2014 mementaskan Wayang Wong(WO) “Mahabandhana” (Kekuatan Tali-Tali Berbisa), di Gedung Kesenian Jakarta, pertengahan Februari 2016 serta pementasan Wayang Orang Sriwedari “Soma Brata” di Sasono Langgen Budhoyo, TMII, Jakarta.

Foto: Muller

Bagikan tulisan ini melalui...

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*