Tradisi Megibung

Megibung biasanya digelar saat upacara seperti Dewa Yadnya (korban suci kehadirat Tuhan Yang Maha Esa), Manusa Yadnya (korban suci kepada sesama manusia), Pitra yadnya (korban suci untuk orang yang telah meninggal/leluhur), Buta Yadnya (korban suci bagi butha kalatermasuk satwa) dan Rsi Yadnya (korban suci bagi para penghulu agama). Tetapi sekarang Megibung digelar juga dalam acara selamatan, acara tutup tahun dan menyambut tahun baru, rapat-rapat yang diikuti lebih dari 100 orang, pelantikan Kepala Desa, RAT KUD dan sebagainya.

Tradisi Megibung masih dilakukan masyarakat di Kabupaten Karangasem dan Klungkung, sedangkan di Lombok Barat Nusa Tenggara Barat, Megibung bukan saja digelar oleh masyarakat suku Bali saja melainkan juga digelar oleh masyarakat suku Sasak sampai sekarang.

Megibung di Bali dikerjakan secara gotong royong. Biasanya dikerjakan sejak sehari sebelum hari H sampai selesai. Jenis-jenis lauk pauk diantaranya: lawar, kekomoh, nyuh-nyuh putih, nyuh-nyuh barak, padamara, wilis (bahannya dari daun belimbing), kacang-kacang, marus, urutan, sate, timbung (rawon), balah dll. Satenya juga banyak macam seperti sate lembat, pusut, asem, kablet dan obob. Lalu diatur pada satu tempat Gelaran (anyaman daun kelapa muda) sedemikian rupa untuk porsi 8 orang laki-laki atau 10 orang wanita.

Satu gelaran atau satu porsi ini bernamakan Karangan. Sementara Nasi diatur menjadi Gibungan. Gibungan dimaksud adalah nasi seberat satu kilogram diatur diatas gelaran, dialasi dengan Nampan, Nare atau Baki, ada juga yang memakai Dulang dimana pada pinggirnya  ditaruh garam atau sambal secukupnya. Di sebelah masing-masing Gibungan tersebut juga disiapkan karangan, air cuci tangan, kendi tempat air minum. Salah seorang dari masing-masing Sela bertugas sebagai tukang Pepara (menaikan lauk ke atas gibungan). Para Pengayah (Peladen) membawa tambahan air, nasi dan seterusnya. Selesai menyantap tuan rumah atau yang mewakili mempersilahkan untuk cuci tangan dan lanjut bubaran.

Sedangkan Suku Bali di Lombok, Karangan (lauk pauk) tidak ditaruh di sebelah Gibungan melainkan ditempat tersendiri. Karena Megibung dipimpin Pengenter (protokol) yang mengomando, lauk apa yang harus disuguhkan secara berurutan. Seperti lauk pemula yang disebut Sekar Gibungan (bunga gibungan), dilanjutkan Olahan Patung (nama salah satu lauk), kemudian Olahan Pepenyon. Terus secara kontinyu disuguhkan Jejatah (sate) yang dihangatkan petugas Nyangglain. Disaat sate dihangatkan, disuguhkan pula Bawi Repah atau Pepindangan (rawon) menyusul Jangan Olah (sayuran) yang disantap bersama sate yang telah dipanaskan tersebut.

Beberapa menit kemudian Pengenter menyampaikan ucapan Tajep yang maksudnya tidak ada lagi lauk yang akan disajikan. Setelah Pengenter mempersilahkan untuk mencuci tangan kembali disuguhkan Mesanganan atau makanan cuci mulut, menyusul kemudian Sirih dan Rokok. Setelah seluruhnya mendapat bagian barulah para tamu dipersilahkan bangun dan bubaran.

Sementara Megibung Suku Sasak dilaksanakan saat acara Sunatan, Perkawinan, Nyiwak (9 hari setelah seseorang meninggal), Metang Dasa, Nyatus (upacara selamatan) dan sebagainya.

(newman ; foto ist

Bagikan tulisan ini melalui...

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*